Surat Rahasia cinta

Standar

Surat Rahasia

posted in Cerita , Cinta & Cita

Selamat siang, sore, malam, pagi atau kapanpun kamu membaca tulisan ini.

Bagaimana harimu ketika kamu sedang membaca surat ini? Baikkah? Burukkah? Atau bahkan biasa saja? Ah, bagaimanapun harimu aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku akan mengirimkan doa-doa terbaik untukmu di dalam sujud-sujudku. Akan aku sampaikan kepada Malaikat yang menemaniku di kala aku sedang berwudhu untuk juga menjagamu.

Hmm, bagaimana aku harus menyebutmu wahai pria yang tak dapat membaui hujan? Sebutan apakah yang pantas aku berikan kepadamu pria dengan mata teduh menenangkan? Apakah menyebut namamu saja sudah cukup atau aku harus menyamarkan siapa kamu agar orang lain tak tahu keberadaanmu sehingga mereka tak bisa mengenalmu?

Tahukah kamu mengapa aku ingin begitu? Aku ingin agar tidak ada dari mereka yang dapat merebut perhatianmu dariku. Agar tak ada dari mereka menjadi terkesan seperti aku? Egoiskah aku jika begitu? Atau tak mengapa jika tetap kusembunyikan saja siapa kamu?

Tahukah kamu mengapa aku menulis surat ini kepadamu? Apa maksudku?

Aku hanya berarti menerjemahkan apa yang hatiku bicarakan. Suara-suara mereka terlalu bising sampai sedikitpun aku tak bisa menghentikan. Mereka berbicara terus menerus tentang dirimu, hingga aku merasa isi kepalaku dipenuhi olehmu. Well, itu tak mungkin kan? Kamu disana, berpisah jarak denganku, lalu bagaimana bisa kau memenuhi isi kepalaku. Oke, ini tidak lucu sama sekali. Tersenyumkah kamu membaca kebodohanku lewat tulisan ini? Aku senang jika kamu tersenyum, membayangkannya saja sudah membuatku ikut tersenyum. Bahkan bila kamu menertawakan kebodohanku pun tak mengapa, aku tak marah.

Kamu ingin tahu tidak apa yang hatiku perbincangkan tentangmu? Aku tak tahu kamu akan menjawab mau atau tidak tapi aku akan memberitahukannya padamu. Ini RAHASIA.

Hatiku berbicara kalau kamu adalah pria baik dan ramah. Oh, itu kamu sudah tahu?
Oke. Mari aku beritahu yang lainnya lagi. Mereka bilang kamu itu sepertinya penyayang. Oh, itu juga kamu sudah tahu?
Baiklah, coba aku ingat-ingat dahulu apalagi yang mereka sebutkan tentangmu. Maaf, bukan memori ingatanku yang kurang tapi ini karena apa yang aku dengar begitu banyaknya. Iya, mereka ribut sekali berbicara sana sini tentangmu, sampai aku tak tahu lagi yang mana yang harus kucuri dengar. Sempat aku mendengar mereka bilang kamu adalah pria yang dapat dengan mudah membuat seorang perempuan jatuh hati padamu. Betulkah? Kamu jawab saja sendiri yah.

Oh iya, kata mereka saat ini kamu sudah membuat seorang perempuan jatuh hati kepadamu.Seorang perempuan yang sedari awal menolak mendengarkan suara hatinya. Yang juga berusaha menahan semua rasanya yang bergejolak ketika berbicara denganmu. Seorang perempuan yang merasa tak pantas untuk jatuh hati padamu. Satu … Hmm, sepertinya mereka tidak membicarakanmu saja yah? Sepertinya yang mereka maksud itu aku. Ah, aku baru saja memberitahumu rahasiaku juga. Hati memang sulit untuk tidak didengarkan suaranya.

Ya sudah, aku sudah terlanjur berkata mengenai rahasia tentang diriku. Iya, perempuan itu aku.Aku jatuh hati padamu. Iya itu pun benar. Aku tak sanggup untuk menahan semua rasa dan membohongi suara-suara hatiku sendiri. Iya, aku jatuh hati padamu.

Kupelihara rindu padamu hingga tumbuh membesar memenuhi semua sisi hatiku. Ingatan tentangmu. Suara tawa kala berbicara denganku terekam baik di dalam pikiranku. Iya, aku jatuh hati padamu. Dan aku katakan itu padamu sekarang.

Andai dapat juga aku lantangkan di dunia. Pada mereka. Bahwa aku merindumu. Aku jatuh cinta padamu, itu sudah aku lakukan. Betapa aku ingin menyebutmu di depan dunia. Betapa aku ingin mengaku tentang semua rasaku padamu kepada mereka.
Biarlah, dunia tak perlu tahu aku mencintaimu. Seperti kamu pun yang tak harus mencintaiku.

Selamat sore, malam, pagi, siang atau kapanpun kamu menyelesaikan membaca tulisan dalam surat ini.

Apakah mungkin aku menuliskan kembali ingatan-ingatan tentangmu dan juga perasaanku di lain hari? Dan apakah kamu tidak keberatan untuk membacanya lagi nanti? Aku akan dengan senang hati dengan apapun jawabmu, kekasih.

Aku yang pusing mendengarkan suara-suara hatiku

Tinggalkan komentar
6MAR2013

Garis

posted in Cinta & Cita , Puisi

Aku bukan diriku. Sekarang.
Aku terombang-ambing dalam lautan perasaan. Darimu. Darinya. Dari dia.
Aku berkali-kali jatuh dan terlepas.
Aku seperti tak sadarkan diri menapaki semua ini.

Kamu mirip garis horisontal. Kamu terjatuh namun tetap berjalan.
Aku mirip garis vertikal. Aku terjatuh, aku hilang.

Akan kuhapus semua garis yang menghubungkan aku dan kamu. Aku dan dia. Aku dan kita.
Samar masih dapat kau lihat jejak-jejak garis yang pernah kita buat. Jangan takut, akan terus ku Gerus samar itu dengan waktu dan diamku. Panggilan.

Maka kini, menghilanglah aku dalam perasaan yang kumiliki sendiri. Dalam kesakitan yang datang bertubi.
Takkan kubawa kau lagi untuk memegangi tangan ini. Takkan kupinjam kembali bahu kokohmu untuk kutangisi.

Aku hanya ingin pergi bersama mimpi yang kusimpan sendiri. Tanpamu. Tanpanya. Tanpa dia.

Tinggalkan komentar
4MAR2013

Nyanyian Hujan

posted in Cinta & Cita , Puisi

Aku bernyanyi kepada Hujan untuk melepaskan segala beban.
Aku bernyanyi kepada Hujan untuk melupakan segala kesenangan.

Aku hanya ingin tenang bersama diriku di remangnya mimbar.
Aku hanya ingin menjadi hilang bersama semua perasaan yang mengendap di angan.

Panggilah aku, hujan!
Peluklah aku sekarang.
lenakan aku dengan tarianmu.
Bawalah aku, hujan!
Tenggelam bersama derasnya tangisanmu.

Ku hanya tak ingin berada di sisi hidup yang harus kulalui.
Aku terlalu letih menari bersama segala rasa sakit dan bahagia ini.
Lenyapkan aku bersama derasnya tangis yang kau curahi ke Bumi.

Aku letih.

2 Comments
4MAR2013

(Bukan) Tawa Untukku

posted in Cerita , Cinta & Cita , Kolaborasi

Toko teh itu terlihat teduh dari kejauhan. Setelah melewati hari yang cukup berat, aku rasa diri layak menyesap secangkir teh hangat di toko itu. Aku pun menggiring langkah menuju pintu merahnya yang berhiaskan satu lonceng kecil itu.

Pintu berderit. Membuka. Hmm … ternyata cukup banyak di dalamnya. Ku pilih satu meja di sudut kiri. Setelah memesan secangkir teh beraroma strawberry, kuputuskan membebaskan pikiran dalam lamunan. Hampir hanyut dalam kekosongan benak, ketika satu tawa renyah tiba-tiba membahana di seluruh sudut ruang. Menggelitik telingaku. Aku pernah mengenal tawa itu.

Aku edarkan pandangan ke arah suara tawa yang begitu sangat kuhapal. Sesosok tubuh duduk membelakangi di salah satu sudut toko yang bernuansa sangat alami. Hanya sebuah punggung yang bergerak-gerak ketika untuk sekian kali dia tergelak. Aku mengenali punggung itu sama persis seperti aku mengenali renyah tawanya. Apakah benar itu dirimu yang sekarang berada hanya beberapa langkah dari diriku? Mengapa bisa kamu berada di kota yang aku tak pernah berharap untuk bertemu? Pasti karena seseorang yang sekarang sedang duduk dihadapmu, seseorang yang saat ini sudah membuatmu tertawa sangat bahagia.

Seorang pramusaji mengantarkan secangkir teh beraroma strawberry pesananku dan dengan sikap yang sangat sopan menyilahkanku untuk menikmati sajiannya. Semerbak manis strawberry memenuhi penciumanku. Minuman ini kesukaanmu dulu. Entah apakah kamu dapat membauinya di sudut sana, aku mengharap kamu mengenali aromanya.

Sesaat kemudian pikiranku mulai berpendar ke seluruh ruang otakku. Ada potongan hati yang melonjak-lonjak berjibaku dengan arus desir darah. Ruang ini pun mulai tampak mengecil di permukaan pupil mataku. Haruskah aku diam saja bersama kelompok kepulan teh ini?

Itu kamu. Kamu yang dulu pernah tertawa bersamaku ketika matahari mulai menggelincirkan menemukan jingga di ladang awan, di pantai itu. Kamu yang pernah menghadirkan dua cangkir teh seperti ini bersama sekuntum mawar putih untukku, di tepi pagi. Kamu yang sekarang sedang bersama seseorang di sudut tatapanku.

Seharusnya kamu tidak perlu memecah tawa. Mungkin jika tawamu masih tersimpan, aku juga masih tenang menyimpan rasa yang telah kuperam bertahun-tahun ini. Lebih baik aku tidak pernah tahu kamu dan aku sudah begitu dekat. Dan sepertinya aku mulai tak sanggup menyimpan langkah untuk tidak menyapamu.

Aku beranjak. Keterlaluan. Derap jantung ini membuatku limbung sejenak. Tapi, tak adil rasanya jika hanya aku sendiri yang menanggung denyut tak beraturan di ruang ini.
kusapa dirimu. Sorot mata itu masih sama. Lembut dan tajam. Kamu terhenyak. Seorang yang lain di depanmu tertegun, mengisyaratkan tak paham dengan situasi tatapan penuh arti antara kamu dan aku.

Beberapa detik kusapukan senyum diantara kamu dan dia. Semoga tak terdengar suara ribut yang mulai tak beraturan dari dalam dada dan kepala. Ah, ada rasa cemas yang menguar dari sorot mata seseorang yang mulai menggenggam jemarimu erat. Dia pasti terganggu dengan sapa kecil dan senyum ramahku. Belum lagi ketika jemari yang kau renggangi ketika aku menyengajakan untuk melirik. Wajah seseorangmu seperti dihinggapi sepi begitu mengerikan.

Suara tawa yang pecah memenuhi toko mungil bernuansa jingga itu sudah tak terdengar lagi dari meja yang kamu tempati bersamanya. Hanya ada keheningan panjang yang terasa dingin menusuk tulang. Haruskah kutarik sebuah kursi dan mulai menyajikan sebuah cerita antara kita berdua kepada dia yang sekarang memandang penuh tanya. Atau kutunjukkan saja sebuah foto masa lalu agar kamu dapat mengingat kembali semua cerita yang pernah kau tuliskan disana.

Aku sudah sangat merasa yakin bahwa tak akan ada tawa lagi yang akan kalian inginkan setelah sore yang indah ini.
Seperti dugaanku, kamu mengajakku bergabung membentuk sudut segitiga di mejamu. Meja kalian. Senyum bergambar penolakan dariku tak kamu pedulikan. Kamu malah menarik satu kursi di sebelahmu, berdiri menantiku duduk. Bias kerinduanmu tak mampu menghindari tangkapan mata hatiku. Baik, kuikuti rindumu. Aku pun ingin patuh pada rinduku. Satu yang ku cemaskan.Wajah sendu seseorangmu.

Kuhempaskan tubuh di kursi yang sebelumnya kamu duduki. Hangat menjalari punggungku.Kamu telah berpindah posisi berdampingan dengannya.

“Seperti kejutan untuk satu sore.” Suaramu mencairkan kebekuan dan keganjilan kita. Perempuan berwajah teduh di sampingmu tersenyum kecil sambil menyesap tehnya. Aku jadi teringat teh aroma strawberry-ku di meja yang lain. Jangan-jangan sudah ikut membeku.

Kususulkan tawa kecil pada ucapanmu. Kuulurkan tanganku padanya. Dan padamu. Aku ingin tampak bersahabat.

“Bagaimana ceritanya, bisa ada di kota ini?” Suaraku terdengar serak. Aku menggerutu dalam hati. Tak bisa ada sinyal kegugupan yang terpancar dari tubuhku.

“Ini hari bulan madu kami,” dia yang disamping menjawab penuh percaya diri. Kamu tersedak ketika cangkir teh yang tidak beraroma strawberry itu baru saja menyentuh pinggir bibirmu. Aku menahan nafas dalam-dalam tak menduga jawaban yang baru saja kudengar.

Kujauhkan tubuh dari meja yang menjadi pemisah antara aku dan kalian. Aku takut gemuruh keterkejutan dapat terdengar dari mu diseberang sana.
Bodoh sekali aku tadi mendekati dan menyapa penuh rindu. Harusnya aku tahu apa tujuanmu ke kota ini. Harusnya aku ingat pembicaraan kita beberapa tahun silam bahwa kota ini adalah tujuan bulan madu kita. Mengapa aku bisa lupa semua hal itu yang sekarang malah membuatku mematung dan membisu. Bahkan aku tak sanggup mengucapkan selamat untuk pernikahanmu.

Deru napas menjadi terlalu sulit dijinakkan. Aku harus segera mencari cara untuk mengisi oksigen pada sekat-sekat hati, agar tak retak dan gugur dari dinding jiwa. Aku bahkan tak sempat merasa kecewa. Seketika diri telah disergap rasa hampa.

Aku tak menyalahkanmu. Bukan kamu yang lari mengejar penerbangan pertama di empat hari sebelum perayaan ikatan janji suci kita. Bukan kamu yang telah meninggalkan kota itu, untuk mengejar impian lain yang datang pada waktu yang tidak tepat. Setelah pertengkaran hebat itu, dan cincin pertunangan yang kamu temukan menggeletak di meja kerjamu, kamu pun mengundang hening kala itu. Membuatku semakin erat menyimpul tali putus asa. Kepergianku mengurai kesedihan pada keluargaku, keluargamu, dan mungkin saja, kamu. Kamu dan aku menyerah pada keadaan. Hanya karena sebait pesan dari seseorang di masa laluku yang tidak sengaja terbaca olehmu. Pesan bernada kesedihan atas rencana pernikahan kita.

Kini, aku harus bahagia dengan kebahagiaan yang kamu pilih. Sejak beberapa tahun yang lalu kuputuskan kamu adalah kenangan indah yang terperam erat di relung hati. Ingin kucukupkan sampai di situ. Sore ini pun ingin segera kucukupkan lemparan waktu masa lalu antara kamu dan aku.

Kuucapkan pamit pada kamu dan dia pendampingmu. Kugariskan senyum tulus pada bibirku yang mulai terasa kaku. Keterkejutan ini nyatanya membuatku ingin kembali berlari. Tawamu pada akhirnya akan tetap menjadi sepenuhnya hanya miliknya.

Tulisan Kolaborasi bersama Gloo Paputungan (@ morningloo)

A Week of Collaboration, Theme: TAWA

Tinggalkan komentar
4MAR2013

Tiga Bungkus Nasi

posted in Cerita , Cinta & Cita , Kolaborasi

Teguh menggeret karung berisi hasil buruannya hingga sore ini. Beberapa botol plastik bekas dan potongan kain sisa konveksi diharapkan bisa membelikannya sebungkus nasi malam ini. Syukur kalau bisa sampai dua bungkus sehingga ia dan Ciput bisa mendamaikan genderang di perut mereka masing-masing.

Antrean masih panjang, ada sekitar enam orang pemulung lain yang berada di depannya.Masing-masing dengan wajah penuh harap, bahwa apapun yang mereka bawa sore ini mampu mengganjal lapar sehari-dua hari ke depan. Teguh memegang dadanya yang terbalut kaos kumal, erat. Ia semakin terlatih menghiraukan nyeri yang dirasa bagai jarum-jarum kecil menusuk.

“Bang, tissue Ciput akhir-akhir ini gak ada yang beli ya? Padahal udah pasang muka melas. Siapa tahu kan yang lihat jadi kasihan dan beli tissue Ciput. Tapi makin hari makin sepi aja. Ciput makin sering laper, Bang. Kan cuma Abang yang bawa nasi bungkusnya. “

“Gak apa-apa Put, yang penting kita masih bisa makan. Nasi bungkus yang Abang bawa kan bisa kita makan berdua. Jangan dipasang lagi muka melasnya ya, ngga baik mengharapkan iba dari orang lain. “Jawab Teguh dengan ketenangan yang memilukan.

Udara kian lama kian bertambah dingin. Dinginnya menambah nyeri yang dirasakan oleh Teguh.Sesekali dia terbatuk dan menarik napas pelan. Kondisi seperti ini yang setiap hari harus dia alami, walau dia tahu bahwa raga yang menopang jiwanya mulai tak kuat menahan beban. Hanya saja dia memang harus terus berjuang, kalau tidak ada lagi orang yang akan menolongnya. Bahkan untuk sesuap nasi dia tak ingin meminta. Kedua kaki dan tangan juga otaknya masih dapat digunakan untuk mencari cara bagaimana mempertahankan hidupnya yang begitu susah.Kesulitan yang tak berujung telah melatihnya menjadi sosok yang kuat dan taat.

“Oi, guh .. Dapet banyak lo hari ini? Udah dibilangin ikut gue aja ngamen. Masih aja ngotot mulung lo. Kalo ngamen tuh lo bisa dapet banyak. Apalagi pas bengek begini. Tambahkan tampang sangar gue dijamin dah banyak yang ngasih. Gak percaya sih lo, ah! “Boi menepuk pundak Teguh, kasar. Kemudian dihembusnya asap rokok di wajah bocah berumur sebelas tahun itu. Teguh pun semakin terbatuk keras.

Ia tak pernah menyukai aksi tengil Boi. Seakan tato di sekujur lengan kanannya membuat dia preman remaja tangggung yang paling keren searea Prumpung. Cara Boi mengamen yang cenderung kasar dan memaksa juga tak pernah ia setujui. Sama saja dengan mengemis. Dan itu adalah satu-satunya hal yang dihindari Teguh demi menjaga amanat Ayah.

“Sesusah apapun keadaannya, Nak, jangan pernah kamu mengemis, meminta. Mboten pareng.Ora elok. Gusti Allah lebih suka tangan yang berada di atas dibandingkan yang di bawah. “Ujar ayahnya saat Teguh menemani di tempat pengolahan sampah.

“Tangan di atas itu maksudnya gimana, yah? Apa seperti mandor Juki waktu diserbu Pak Polisi? “Tanya Teguh, polos. “Bukan, Nak. Tapi itu artinya memberi. Karena saat memberi, tangan kamu akan berada di atas. Yang artinya doa kamu untuk ditempatkan pada posisi atas dalam golongan umat Allah juga pasti lebih didengar. “

Teguh terdiam mengingat kata-kata Ayah tiga tahun silam. Tepat sebulan sebelum ayah ditemukan terkapar di samping rel kereta dekat persimpangan Pisangan. Dengan isi kepala yang terurai.

Ia lalu beringsut menjauh dari Boi, bukan hanya karena ingin menghindari bau asap yang disemburkan Boi tetapi juga karena ia tak kuat mencium aroma minuman keras yang keluar dari mulut Boi.

“Gak ah, Boi. Hasil memulung ini pun udah cukup buat membeli nasi bungkus. “

Boi yang memang berlagak seperti preman itu malah membodoh-bodohi Teguh. “Nasi bungkus yang lo beli itu pun gak cukup, tolol! Tuh si Ciput gak pernah dapat apa-apa, lo mau kasih dia makan apa? “

Teguh mengalihkan pandangan ke Ciput. Iya, Ciput memang jarang sekali membawa hasil dari asongan tissuenya sehingga dia hampir tak pernah bisa membeli makan. Bahkan hal itu terjadi hampir setiap hari. Mereka berdua memang sudah menyadari keterbatasan penghasilan yang mereka dapatkan namun tetap tidak membuat mereka kemudian memilih pekerjaan seperti yang dikerjakan Boi. Tak mengapa buat mereka saling berbagi hasil yang didapatkan asal tidak menjadi orang yang mengharapkan belas kasih orang lain.

Masih tidak menghiraukan ocehan Boi, Teguh maju perlahan. Giliran mengganti isi karungnya tiba.Penuh harap ia bayangkan dua bungkus nasi yang akan dinikmatinya bersama Ciput.

“Bang, lampu merahnya rame! Ciput penjualan dulu yah. Serbuuuu!! “Ciput berlari riang dengan senyum menyeringai. Adiknya yang berumur 7 tahun itu jarang sekali mengeluh. Hanya pertanyaan polos yang sering diajukan tentang perilaku orang-orang jalanan di sekitar mereka.Mau tak mau Teguh pun ikut tersenyum melihat semangat adiknya.

“Lumayan juga bawaan lo hari ini, guh. Ngider dimana kemana aje lo nemu banyak potongan kaen begini. Nih buat lo bawa pulang hari ini. Potong sepuluh ribu yak buat setoran ke mandor. “Teguh menerima tiga lembar uang limaribuan lusuh. Alhamdulillah. Bukan cuma dua bungkus yang bisa dibeli.

Tapi ada sisa juga yang bisa disimpan bila sewaktu-waktu potongan kain yang dicari tidak banyak ia dapatkan. Segera Teguh pergi meninggalkan tempat Bang Yogi. Ia ingin segera membeli nasi untuknya dan Ciput. Semoga malam ini pun Ciput membawa hasil asongannya agar dapat menambah syukur atas rejeki yang mereka berdua dapatkan. Bahkan kalau memang perlu, Teguh akan mengajak pulang saja Ciput ke gubuk mereka berdua di bawah jembatan di sudut kota dan tak melanjutkan usahanya menjajakan tissue di lampu merah.

Teguh sebenarnya merasa tak tega pada adiknya itu namun ia pun tak bisa melarang Ciput untuk membantunya bekerja. Apalagi udara dingin dan gelap malam hari ini tak biasanya terjadi.Mungkin karena baru saja hujan disepanjang hari ini.

Tegap ia langkahkan kaki nya ke warung Mak Iyah. Sebungkus nasi dengan sayur daun singkong dan ikan teri sambal untuknya, lalu sayur sop dan telor dadar untuk Ciput dipesannya sambil memikirkan jalur memulungnya esok hari. Ia harus sering melewati deretan industri kecil dan ilegal di samping rel kereta itu untuk mendapatkan hasil yang serupa hari ini.

Oh ya, tidak lupa, Ciput akan diajaknya ke panti jompo untuk menemui Pak Ajo. Sudah dua minggu lebih mereka tidak menjenguk orang tua itu. Ya, semenjak hasil penjualan tissur Ciput menurun. Teman dekat ayah itu sudah bertahun-tahun tidak dikunjungi sanak keluarganya. Anak-anaknya menelantarkannya di panti jompo tanpa menjenguknya kembali. Ayah mengenalnya ketika Pak Ajo menyusup keluar panti karena bosan dan mengajak ayah mengobrol setelah dilihatnya Ayah memisahkan sampah di masing-masing karungnya agar rapih.

Pak Ajo sudah seperti pengganti ayah bagi mereka. Rasa menyenangkan dan bahagia terpancar setiap kali mereka mengunjungi pria yang sebenarnya masih terlihat segar itu.

Ada saja yang mereka kerjakan ketika waktu mempertemukan mereka. Saling bercerita apa yang telah masing-masing mereka lakukan. Ciput paling senang jika Pak Ajo mulai bercerita berbagai macam dongeng. Mungkin, karena Ciput masih terlalu kecil sehingga dia begitu menyukai kisah-kisah yang diperdengarkan pria pengganti Ayah mereka.

Ada senyum, ada tawa membahana, ada canda yang saling mereka lontarkan. Tak ada sedikitpun keluhan atau rengekan kesedihan diantara mereka. Mereka hanya saling menyalurkan bahagia.

Teguh merindukan itu semua. Sumber bahagia yang dapat ia bagi bersama adiknya.

Memikirkan Pak Ajo membuat Teguh memesan satu bungkus nasi tambahan. Biarlah hasil hari ini berkurang, melihat dia dengan lahap menyantap nasi kuah santan dengan perkedel kentang kesukaannya sudah membuat Teguh dan Ciput merasa senang.

Tiga bungkus nasi sudah selesai disiapkan Mak Iyah. Dengan riang, Teguh melangkah keluar, menyusul Ciput yang masih menjajakan tissue di lampu merah. Rasa senang memenuhi dadanya, seakan menutupi sesak dan nyeri yang dideritanya. Teguh bagaikan lupa akan anjuran Pak Ajo untuk memeriksakan sakit di dadanya ke dokter di panti. Vonis penyakit bukanlah sesuatu yang ia dan Ciput butuhkan dalam situasi ini.

“Put, Cipuuut! Siniiii .. Nasi nya udah siap nih. Kita sekalian makan bareng di tempat Pak Ajo yuuk.”Teguh melambaikan kantong nasi bungkusnya pada adiknya. Ciput pun menoleh dan lekas mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju kakaknya. Terburu-buru, kotak tisu yang dijajakannya terbentur kaca spion mobil yang tengah menunggu lampu merah. Isi nya lalu jatuh berserakan di jalan, sedangkan lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau. Panik, Ciput mencoba mengumpulkan satu persatu tissuenya tanpa menghiraukan bahaya dari kendaraan yang melintas.

Melihat bahaya yang mengincar adiknya, Teguh berlari melintasi rel kereta. Tanpa sadar bahwa palang pintu kereta akan menutup kedua jalurnya. Commuter Line arah Bekasi-Kota itu pun melaju kencang. Dan meninggalkan persimpangan beserta tubuh Teguh yang terkapar.

Persis di lokasi Ayahnya terbujur kaku, tiga tahun yang lalu. Ciput menjerit. Teguh sempat melihat adiknya menangis kencang. Lalu melirik sekilas pada tangannya yang berada di atas bungkus nasi yang remuk terlindas rel. Lalu kemudian ia melihat senyum Ayahnya, berganti dengan senyum Pak Ajo. Lalu dadanya terasa semakin nyeri dan sesak. Masih dalam kondisi terkapar, tangannya mencoba melambai pada Ciput yang masih menangis kencang.

Lalu semuanya hilang, gelap.

Tulisan Kolaborasi bersama Didiet Prihastuti (@ sweetdhee)

A Week of Collaboration, Theme: GELAP

Tinggalkan komentar
4MAR2013

Lelah

posted in Cinta & Cita , Puisi

Lelah memutari waktu dan hari untuk menghindari bayanganmu. Bersembunyi dalam lorong yang sunyi tanpa ada apapun yang menemani. Berlari terus mengitari cahaya yang kucari agar tak terus kau bayangi. Aku hanya ingin pergi.

Menjauhlah dariku, ku telah lelah berlari. Pergilah dariku, aku hanya ingin berdiri sendiri.Janganlah kau menjadi bayangan masa lewatku. Aku tak ingin terus berdiri menatap masa duluku lagi.

Bayangan masa ketika kau menaungiku sungguh melelahkanku. Kau hadirkan terus kenangan ketika bumi milikmu beredar bersamaku. Pun ketika mataharimu dulu masih menyinariku.Sungguh, aku hanya ingin mencari rembulanku sekarang.

Wahai bayangan, pergilah kau sekarang. Carilah bumi yang bersedia kau ikuti. Janganlah lelah mencari siapa yang kau naungi. Belajarlah berjalan bersama dirimu sendiri. Dan aku akan tetap berdoa kepada semesta tentangmu untuk masa tanpaku.

Tinggalkan komentar
4MAR2013

Titik Akhir

posted in Cerita , Cinta & Cita

Tidak ada yang salah dari sebuah ‘akhir’. Tidak yang salah juga dengan sebuah perpisahan.Semua adalah hanya bagaimana cara kita menyikapinya ketika suatu hal sudah menjadi biasa dan terbiasa kemudian menjadi hilang dan tidak ada. Seperti apapun cara menyudahinya itu hanyalah sebuah cara, sebuah jalan bahwa segala sesuatu pasti akan ada akhirnya.

Segera, seindah apapun sebuah akhir akan menyisakan perasaan kehilangan yang dalam. Akan selalu ada airmata dan tangis yang tak dapat dihindarkan. Tak mengapa. Manusiawi. Itu menunjukkan kalau kita masih memiliki perasaan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Tapi lihatlah ke depan, jalan yang kita punyai masih sangatlah panjang. Masih akan ada pengalaman dan hal-hal yang tak pernah kita sangka sebelumnya jauh didepan sana.

Hidup akan jauh lebih berwarna jika kita memaknai masa lalu hanyalah sebuah masa lalu yang tak perlu kita ributkan lagi apa yang pernah terjadi. Bahwa semua hal baik maupun buruk dari sebuah masa lalu akan menjadi guru dan pembelajaran untuk kita di masa yang harus segera kita jejaki.

Tak perlu juga kita menghapus apa dan siapa yang telah menggoreskan cerita di kehidupan kita, karena sungguh itu adalah tindakan yang tak menyelesaikan segala sesuatunya. Namun tak harus juga kita terus mengingat dan menciptakan bayangan menjadi nyata, karena sungguh itu hanya akan membuat kita tak mampu melangkah. Biarkanlah mereka ada dan berada di garis hidupnya masing-masing. Biarkanlah mereka hidup dan nyata di harapan dan mimpinya sendiri-sendiri.

Aku pun akan menapaki semua hal itu, sekarang. Tetap, akan kusambut pagi dengan penuh rasa syukur karena masih memberi ijin untuk kuresapi dalam hati. Pun, akan kunanti malam-malam sepi agar dapat menggenapi sujudku yang telah lama kutinggali. Aku bersyukur pada semua yang telah menguatkanku tanpa disadari. Aku mengucapkan doa-doa panjang pada mereka yang menahan kepala dan punggung ini untuk tidak lemah dan lelah berdiri. Aku kasihi mereka yang tak bosan mengingatkan bahwa akan masih banyak keajaiban yang Dia siapkan untukku di masa depan.

Pada kamu, seorang Ksatria yang mulia, tak henti kuucapkan terima kasih untuk jemari yang selalu menggenggami agar aku tak berjalan sendiri. Segala kata dan doa yang kau titipkan pada semesta telah sangat menguatkanku. Gelak tawa dan canda yang kau hadirkan sudah membuat pergi malam senduku. Kamu mirip harap dan doa yang Dia beri untuk melengkapi. Semoga jarak dan waktu tak lekas pergi agar aku bisa memberi tanggapan apa yang telah kau penuhi.

Pada kamu, Pangeran rupawan, tak akan akhirnya aku bisa berdiri seperti sekarang ini tanpa bahu yang kau pinjamkan untuk kusandari. Segala rindu dan mimpi yang kau bangun untukku adalah satu penyemangat yang mungkin tak akan pernah bisa kuberi lagi. Berjuta cinta yang kau alirkan diantara cerita telah membawa surgaku kembali. Lingkaran tanganmu yang merengkuh raga dan jiwa membuatku kokoh. Sungguh kau telah jauh membantu melewati masa rapuhku tanpa mengeluh.

Saat ini, sekarang, nanti, pasti, aku akan tetap menjadi Putri yang akan selalu kuat berdiri meski ada atau tanpa hadirmu disisi. Akan kupenuhi janji untuk tak menangis dan mengasihani diri. Dan akan selalu kutitipkan rindu pada setiap udara yang akan kau hirup agar kau tahu, inginku mendekapmu dan mengatakan “Aku mencintaimu”.

Pernah di posting di blog lama yang sudah kehapus.

Tinggalkan komentar
3MAR2013

Akhir Penantian

posted in Cerita , Cinta & Cita , Kolaborasi

~ Ku akan menanti walau penantian panjang. Ku akan setia menunggumu, ku tahu kau hanya … Hanya untukku ~

Lagu yang kudengarkan di radio mobil saat berangkat kantor tadi pagi terus mengiang ditelingaku. Seperti menyindirku saja. Lagu yang dinyanyikan pesinetron yang baru saja beranjak remaja ini sungguh membuatku ingin menjerit. Meneriakkan kata-kata makian.

Hatiku semakin mengembara ke langit ketujuh, ditambah meeting yang membosankan menambah kegalauan hatiku. Lagi-lagi malam minggu ini menjadi malam minggu yang membosankan. Setumpuk novel misteri selalu menjadi pilihanku untuk bermalas-malasan.Sungguh aku tidak ingin mengingat tentangmu. Kamu tak layak mendapatkan cintaku yang tulus ini. Ah atau aku salah? Apakah aku yang tak layak mengganggu kehidupanmu dan mendapatkan cinta tulusmu?

Aku mengingatmu sebagai sosok yang istimewa sejak tiga tahun yang lalu aku pertama kali mengenalmu. Entah apa yang ada dirimu yang membuatku sejak awal langsung begitu tertarik padamu. Aku tidak bisa memungkiri kalau kau memiliki wajah yang sangat menawan dan tampan. Perawakanmu tinggi walau kau menjadi terlihat kurus karena itu. Jambang halus membingkai rahangmu yang tegas. Kau memang pria paling sempurna yang pernah kukenal.

Namun bukan hanya itu saja yang membuatku jatuh tergila-gila padamu. Sikap dan pembawaan dirimu pun sangat aku kagumi. Berbicara dengan mu tak pernah membuatku menjadi bosan dan menjemukan. Kau selalu bisa menjadi lawan bicara yang menyenangkan, bahkan terkadang akulah yang tak dapat mengimbangi dirimu. Debat dan perbedaan pendapat ditengah-tengah obrolan kita pun rasanya jauh lebih menyenangkan. Tak pernah setelahnya menjadi kesal atau menyesal.

Senyumku tak lepas dari bibir ini saat bayangan wajahmu saat berdebat denganku, wajah yang segar dan sedikit ngotot itu akhirnya malah melemah karena aku akan cemberut karena merasa kalah. Aku merengek manja dan menuntut aku harus memenangkan perdebatan ini. Aku masih ingat saat kita berdua berdebat tentang novel penulis kesayanganku. Kamu mengatakan novel itu datar dan membosankan, tapi aku dengan keras kepalanya berkata novel ini keren dan sangat bagus. Aku tahu sebenarnya dalam hati kecilku mengakui itu semua benar, tapi dasar aku tak mau mendengar.

Ah, aku jatuh cinta sama kamu. Aku menyimpan perasaanku padamu. Aku tak ingin kebersamaan kita membuatmu terbebani. Aku tahu kamu masih merindukan cinta yang lalu, aku pun tahu karena kamu sudah jujur ​​kalau kamu masih berduka dengannya. Aku sedikit cemburu saat kamu membicarakannya.

Aku tersenyum lagi dan suara teguran bos membuatku kembali ke saat sekarang. Sedikit menyesali bayanganmu membuatku kehilangan konsentrasi. Memikirkanmu memang selalu menghabiskan waktuku dan tanpa sadar menyeret pikiranku ke sebuah rotasi waktu yang entah dimana.

Selalu saja begitu selama tiga tahun ini. Namun aku tak dapat berbuat apa-apa, aku seperti tak memiliki andil jika sudah berurusan dengan hati dan dirimu. Padahal mungkin saja, bahkan aku hampir merasa yakin kamu pun kini tak sedikitpun mengingatku.

Kamu, ya kamu tak pernah mau lepas dari pikiranku. Sesungguhnya berat buatku hidup dalam bayang-bayang pesonamu, namun aku menyukai saat-saat aku mengingat nyatamu.

Bayanganmu selalu memberikan energi untukku melangkah. Semangatmu membuatku bertahan di kotaku sekarang. Ah lagi lagi aku mengingat kebaikanmu. Kamu memarahiku saat aku dengan ceroboh minum cappucino pesanmu. Bukan karena minumanmu yang habis aku minum, tapi karena kamu tau aku akan menderita dengan minuman itu. Tapi aku dengan manjanya tersenyum dan menikmati amarahmu lagi.

Aku ingat tanggal tiga puluh satu januari yang lalu aku mengatakan aku ingin melupakanmu. Aku ingin menjadi amnesia, aku berharap kamu terkejut dengan perkataanku. Tapi kamu hanya menarik napas dan berkata pasrah. Aku ingat kata katamu yang membuat air mata ini jatuh.Ingat dengan jelas apa yang kamu ucapkan. Kamu merelakan aku melupakan kamu. Kamu! Aku ingin memukul dada bidangmu dan memelukmu erat. Bukan itu harapanku. Bukan!

Aku ingin kamu menahanku. Menahan dan memintaku menarik kata-kataku kembali. Aku ingin kamu mendebat perkataanku seperti yang biasa kamu lakukan. Aku ingin kamu tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Nyatanya kamu tak melakukan semua hal itu. Kamu hanya terdiam dan tak berkata apapun. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutmu. Aku benci sikap diammu itu.

Ada apa denganku ini? Mengapa masih saja aku mengingatmu dengan baik. Segala rasa yang aku rasakan ketika itu seolah kembali nyata tiap kali aku mengingatmu. Andai saja kamu pahami, rinduku padamu tak pernah mati. Andai kamu mau sedikit saja membuka hati, mungkin aku akan tetap bertahan hingga kini.

Tak terasa air mata ini jatuh. Kuhapus dengan kasar air mataku. Aku tertawa tertahan, tak ingin orang disekelilingku mengatakan aku tidak waras. Aku tidak pernah menyesali mencintaimu. Tidak pernah menyesali kebersamaan kita. Aku hanya menyesali. Kenapa butuh bertahun tahun kamu melepasku. Kenapa kau biarkan cintaku tumbuh di atas penantian semu itu? Kenapa? Pertanyaan yang tidak mungkin kamu jawab. Penantianku sia sia. Cintaku tumbuh subur tanpa pernah kau petik bunganya. Kenapa kamu biarkan aku terluka terlalu lama? Tidak seharusnya aku menyalahkan kamu akan pilihan ku ini.

Ini semua gara-gara paket yang aku terima di kantorku kemarin sore darimu yang hingga kini belum berani kusentuh untuk kubuka apa isinya. Aku takut untuk membuka. Aku takut jika paket itu berupa undangan atau apapun yang mungkin mengabarkan hari bahagiamu. Rasa-rasanya aku takkan sanggup melihatnya nanti. Tapi jika aku tak membuka dan melihat apa isi paket yang kamu kirimkan itu, aku akan terus menerus seperti ini. Memikirkanmu, mengingatmu, mengenangmu tanpa aku ketahui apa yang sebenarnya terjadi. Sepagian hingga siang ini saja pun pikiranku sudah dibuat berantakan olehmu.

Akan kuberanikan saja diriku membuka paket apa yang sedang ada di hadapanku ini sebenarnya dari pada aku penasaran dan hanya menebak-nebak saja.

Kutimbang beban ini. Paket yang rasa rasanya mustahil dari dirimu kalau tidak membaca nama dan alamat pengirim. Aku tahu karena untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku saja kamu enggan kalau aku tidak merengek dan mengancam mendiamkan kamu selama satu tahun.Kini setelah aku dan kamu berpisah kamu mengirimi aku sebuah paket. Sangat mustahil bagiku mempercayai ini. Kupandangi saja karena karaguan masih menggelanyut.

Hmm, baiklah tidak akan membuatku terluka apapun ini isinya. Bahkan kalau ini undangan pun aku tinggal melemparkan ke tong sampah saja. Dengan perlahan aku membukanya. Mataku melotot, Aku sudah akan berteriak histeris untunglah aku cepat membungkam mulutku dengan tangan. Sebuah novel! Sebuah novel yang dua tahun lalu sangat ingin kubeli. Syok tidak menyangka paket yang membuatku menjadi kehilangan diriku selama seharian itu ternyata sebuah buku. Tunggu! Ada amlop putih didalamnya. Dadaku berderdetak kencang lagi … Undangan? Ingin langsung aku lemparkan saja amplop itu andai aku tidak membaca kalimat didepannya. “Jangan kamu lempar.” Ah sial! Kamu masih mengingat kebiasaanku.

Kubaca surat itu dengan perlahan. Air mata kali ini jatuh bukan untuk penyesalan. Air mata jatuh karena aku bahagia. Penantianku selama ini tidak sia sia, aku membaca kaliamat yang tertulis dalam suratmu. “Maaf kamu menunggu terlalu lama. Novel ini yang aku kirim sebagai awal memulai segalanya dari awal. Aku tidak tahu apakah kamu membeli novel ini sendiri atau tetap menunggu aku yang membelikan seperti janjimu sewaktu kamu mengancamku. Mengancam marah satu tahun kalau aku tidak membelikanmu. Nomor telponku tidak pernah berubah. Tolong kabari aku secepatnya. “

Mataku basah dan air mata tetap tak bisa kubendung. Penantianku berakhir, penantian cintaku yang berakhir manis.

Tulisan Kolaborasi bersama Aini (@ baelovesee)

A Week of Collaboration, Tema: Penantian

Tinggalkan komentar
2MAR2013

Tentang Tanya

posted in Cinta & Cita , Puisi

Suatu ketika ada seorang perempuan bertanya kepada kekasihnya karena sudah begitu lama ingin sekali ia mengetahui tentang hal ini.

“Apakah kau menyesal telah bersamaku sayang?” Tanya Sang perempuan kepada kekasihnya.

“Apakah jawaban yang akan kau dapatkan itu sangatlah penting sehingga kau harus mempertanyakannya, sayang?” Sang kekasih balik memberikan pertanyaan.

“Tentu saja, sayang. Aku hanya ingin tahu tentang keberadaanku dalam hidupmu. “Jawab perempuan itu manja.
Ditatapnya wajah sang kekasih oleh pria berwajah tampan yang memiliki mata yang sangat teduh itu. Deretan rambut halus namun tebal di atas kedua matanya membingkai wajahnya dengan sempurna.

“Baiklah jika kau benar-benar ingin mengetahuinya, sayang. Aku tidak pernah menyesal dengan adanya dirimu dalam hidupku. Sebaliknya kau adalah hal terbaik yang pernah ada di hidupku, di hatiku, di pikiranku, di semua indera yg ada di tubuhku, “sambil tetap memandangi wajah kekasihnya, pria itu tersenyum dengan tulus dan melanjutkan kalimatnya.

“Aku pun tidak akan pernah menyesal karena telah jatuh cinta kepada dirimu dan karena telah begitu menyayangimu. Kau tahu mengapa, sayang? “Pria itu kembali bertanya dan sang kekasih hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mengetahui apa jawabannya atau mungkin ia hanya berpura-pura tidak tahu jawaban sebenarnya.

“Karena aku yang menginginkan untuk bersamamu, sehingga sedikitpun tak pernah ada penyesalan tentangmu.”
Perempuan itu tersenyum bahagia. Digenggamnya jemari sang kekasih dan kemudian dikecup dengan sangat ramah punggung telapak tangan kekasihnya itu.

Namun, sepertinya masih ada satu hal lagi yang mengganggu pikiran perempuan itu sehingga kembali ia mengajukan pertanyaan kepada kekasihnya.

“Sayang, apa yang sesungguhnya paling kau rindukan dari diriku?” Tanya perempuan itu kepada sang kekasih.

“Mengapa kau bertanya seperti itu, sayang?” Pria itu membelai lembut rambut panjang kekasihnya.

“Aku hanya ingin tahu saja, apa yang selalu kau rindukan dariku,” jawab perempuan itu.
Pria itu kemudian tertawa. “Apakah kau meragukan apa yang aku rasakan kepadamu, sayang?”

“Tidak. Cukup jawab saja pertanyaanku itu, sayang. “Perempuan cantik dengan senyum yang sangat manis itu merajuk.
“Sayang, aku selalu rindu kepadamu bukan karena wajahmu saja, rambutmu saja ataupun tubuhmu saja. Karena itu akan menjadi bagian yang terpisah darimu, “jelas pria berperawakan sedang itu. Ia kemudian menyesap teh manis hangat yang disajikan kekasihnya.

“Aku, selalu merindukan, Kamu. Satu paketmu. Semua yang ada didirimu. Ragamu kurindu, karena aku rindu menyentuh nyatamu. Jiwamu kurindu, karena ia telah menyentuh jiwaku. Senyum, tawa, marah, kesal dan semua tentangmu pun kurindu karena itu adalah segala emosi yang kau punya untukku. “Jawab pria tersebut lugas.

Kembali perempuan itu tersenyum sangat bahagia, namun kali ini sepertinya semua jawaban yang diberikan sang kekasih sudah sangat memuaskannya. Kemudian dengan penuh cinta ia lingkarkan kedua tangannya dan memeluk mesra kekasihnya.

Teruntuk seseorang yang mengijinkan aku menitipkan cinta padanya. ILY 
-02 Maret 2013 -

5 Comments
1MAR2013

Rasa

posted in Cerita , Cinta & Cita , Kolaborasi

Sudah hampir setahun mereka tak berhubungan komunikasi. Jarak dan waktu tak pernah ingin mendekatkan mereka, namun rupanya semesta bertindak beda. Ia memintalkan lagi benang waktu dengan jarak secara bersama.

Sebuah kabar yang Raina dapatkan dari sahabat lamanya tentang Rama membuatnya terus berpikir keras. Entah apa sebenarnya yang dipikirkannya karena ia pun tak mengetahuinya.Hanya saja, setelah beberapa hari Raina menerima kabar itu perasaannya seperti menjadi tidak menentu. Ada getaran yang tak bisa ia jelaskan pada orang lain, pun pada dirinya sendiri. Ada ketakutan yang tak ia mengerti perihal keberadaan Rama di kota ini kembali.

Beberapa waktu lalu perasaannya Raina tidaklah sekalut sekarang. Berapa kali matanya melirik jam yang melingkari tangan mungilnya. Waktu seakan berjalan lambat tapi tak mau berhenti seperti harapan Raina. Malam ini Raina akan melihat Rama, melihat wajah yang hanya bisa dilihat dilayar laptopnya dan hanya bisa dipandangin setiap malam dalam keadaan sepi dan sunyi. Keheningan malam yang selalu menemani Raina yang bergejolak dalam asa.

Raina berdiri dan memandang sekitar, semua teman asik pada dunianya sendiri sok sibuk dengan pekerjaan. Raina mengambil dompet dan melangkah menuju kantin. Dipesannya jus semangka kesukaannya dan meminumnya pelan. Air bening jatuh melewati pipi mulusnya tanpa sempat Raina tahan. Isakan lembut lolos dari tenggorokannya juga tak mampu ia tahan. Rama membuat semua kesedihan Raina menyeruak lagi.

Yang membuatnya tak dapat mengendalikan perasaan dan airmatanya juga karena sebaris pesan yang diterimanya pagi tadi menyusul kabar yang disampaikan sahabatnya kemarin. Rama yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengabarkan sedang berada di kota ini dan menginap di salah satu hotel terkenal di tengah kota. Raina tak mengerti mengapa Rama melakukan tindakan itu.Setahun yang lalu berjanji tak akan merajut apapun bahkan saat Rama yang menyambungnya kembali.
Keinginan menemui Rama begitu besar sama besar dengan penolakan di kepalanya. Wajah Aldi suaminya dan Masya putri kecilnya bergantian muncul di pikirannya. Hampir gila ia memikirkan semua ini.

Raina khawatir dan ragu, tak ingin mengatakan kepada suaminya perihal kedatangan Rama. Tapi bagaimana janjinya dihadapan Tuhan bahwa tidak akan ada dusta diantara mereka dan tidak ada kebohongan lagi yang mewarnai kehidupan rumah tangganya. Rama sangat jelas memintanya dan menegaskan maksudnya. Bisakah ini dikatakan ancaman halus? Raina menghabiskan minumannya. Masih tak ingin beranjak dari duduknya. Hanya bisa memejamkan mata. Lagi isakan demi isakan lolos tak bisa dibendungnya.
Bayangan wajah polos Masya menambah kepedihan hati Raina. Anakku tolong ibumu ini, harus bagaimana menghadapi masa lalu ini. Raina menghapus air mata dan meletakkan tangannya dimeja. Mampukan ia dan Rama menyelesaiakan malam ini?

Semakin Raina memikirkan kondisi ini sakit di kepalanya semakin bertambah. Seharusnya memang ia dapat memutuskan apa yang akan dikerjakannya dengan mudah. Sudah jelas ia dan Rama tak akan berakhir kemana-mana. Apapun hubungan yang ada diantara mereka semestinya memang tidak perlu ada lagi. Namun kenyataannya, ia tak mampu memilih apa yang diinginkannya.

Sejujurnya ia masih menyimpan semua perasaan entah apa namanya itu kepada Rama. Sebuah perasaan yang ia sembunyikan dari siapa dan apapun juga. Sebuah keinginan yang harus ia kubur rapat di ruang paling dalam hatinya. Ia merasakan semua yang ada untuk Rama dalam keheningan yang panjanh, tanpa suara tanpa kata.

Riuh suara di sekelilingnya tak membuatnya terganggu, ia tetap saja terdiam membisu dengan isak tangis tertahan. Raina mengingat benar pertemuan terakhirnya dengan Rama setahun yang lalu di kota dimana Rama menetap. Raina mengabarkan keberadaannya kepada Rama dan lalu mereka berjanji untuk bertemu. Disebuah sore menjelang senja mereka bertemu. Bukan di tempat dimana Raina menginap, tetapi di kediaman Rama di timur kota.

Rama kala itu mengantar jemput Raina dari perjalanan dinasnya yang kemudian membawanya ke tempatnya. Raina sudah tak memikirkan apapun juga karena hatinya terlalu sibuk menari merayakan pertemuan dengan Rama. Ia membenamkan dirinya dalam pelukan pria itu. Sekedar menitipkan segala rasa rindu yang tak tertahan yang mungkin memang hanya mereka yang tahu.

Manisnya madu memang tidak memabukkan, tetapi manisnya madu membuat Raina dan Rama melupakan segalanya. Suasana sepi dan syahdu mengantarkan kedua sejoli diambang kehancuran. Tak ada penyesalan. Tak ada kata takut dosa mereka tersenyum saling pandang.Raina tak beranjak dari sisi Rama sepanjang malam itu. Rama memeluknya erat dan berbisik semua indah. Benar semua indah pada awalnya. Rama selalu melimpahkan kasihnya. Tapi mereka lupa, dosa yang mereka buat tak bisa mereka sembunyikan lagi. Raina menangis dipelukan Rama.Satu tahun lalu, namun rasa pelukan Rama membuat Raina bergetar.

Raina takut pertemuan sekarang merobek pertahanan hatinya. Kerinduan dan sakit hati tak bisa dibedakan lagi. Aldi suaminya yang penuh kasih tak bisa menggantikan kekosongan hatinya.Benar … Setiap malam Raina masih memandangi foto Rama dengan sangat hati-hati, dia tak ingin membuat suaminya sedih.

Namun kali ini harus mengambil keputusan yang benar baik untuk dirinya, keluarganya dan juga Rama. Raina hanya tak menginginkan hal yang menyakitkan untuk siapapun. Ia sudah terlalu lelah memainkan hatinya.

Dengan langkah gontai Raina menyeret kakinya menuju toilet. Setelah merapikan dandanannya Raina menuju ke mejanya. Aldi menelponnya berkali-kali, tumben ini. Raina mengacuhkan telpon dari suaminya dan memberikan kabar kalau tidak bisa diganggu dulu dan akan pulang malam.Setelah meletakkan handphonenya Raina membereskan mejanya. Ah ternyata kelamaan melamun dan menangis sudah menghabiskan waktunya. Tak ingin berkutat dengan kemacetan yang semakin menggila, Raina menuju hotel tempat Rama menginap.

Raina mengetuk pintu kamar Rama dan menunggu dengan hati berdebar. Rama berdiri memandangnya. Raina mengercapkan mata dan menemukan dirinya dipeluk erat Rama. Raina masih mematung dan membiarkan Rama menghelanya masuk, bahkan ia masih terdiam mematung saat Rama menciumnya. Suara pintu yang diketuk membuat Rama mengerutu karena kesenangannya terganggu. Matanya melotot berdiri Aldi yang menggendong anaknya yang tertidur. Raina tersentak mendengar suara Aldi, tidak ada kemarahan hanya kepedihan.

Hatinya tersayat mendengar suara Aldi yang bergetar.
“Raina tidakkah cintaku cukup untukmu? Apakah cintaku tak cukup membahagiakanmu? “Raina menunduk, Sakit hatinya mendengar Aldi mengatakan seperti itu.

Bukankah satu tahun ini hidupnya bahagia? Bukankah cinta Aldi telah mengisi kekosongan hatinya yang ditinggal Rama? Raina masih terdiam. Keheningan mencekam, semua terdiam.
Mungkin memang ini saatnya ia memutuskan yang benar. Toh kedatangannya ke kamar ini bukan untuk memenuhi undangan Rama. Kedatangannya yang sesungguhnya adalah untuk memberitahukan kepada Rama bahwa ia ingin menyudahi segalanya. Bahwa apa yang terjadi pada sebelumnya adalah kesalahan fatal. Dan kini ia tak akan mempertaruhkan lagi keutuhan keluarga kecilnya. Ia akan memilih Aldi dan Masya yang merupakan masa depannya. Bukan Rama yang adalah masa lalunya.

Rama terkejut dengan keputusan yang diambil Raina. Ia tak menyangka bahwa kedatangannya ke kota ini yang sekaligus untuk menemukan cintanya kembali ternyata berakhir dengan cara seperti ini. Keheningan kembali menyeruak di hati masing-masing.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s