Ponorogo Hidupkan Ritual Bedah Bumi

Standar

Ponorogo Hidupkan Ritual Bedah Bumi

PONOROGO – Ratusan warga Desa Pager Ukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo menggelar ritual Bedah Bumi di situs Batu Tulis Pager Ukir, Senin (17/6/2013).

Ritual ini kembali dihidupkan warga setempat sebagai upaya nguri-uri budaya leluhur yang sejak 25 tahun terakhir sudah mati dan tidak pernah dilaksanakan karena dianggap sebagai budaya leluhur yang menganut kepercayan animisme dan dinamisme.

Namun dengan berbagai upaya sosialisasi, ritual dengan ciri khas membawa seluruh hasil bumi, mulai dari buah-buahan, palawija, pala pendem, serta hasil panen padi dan hasil meladang itu, mulai mendapatkan simpati masyarakat lagi.

Buktinya, meski baru kali pertama dilaksanakan, langsung diikuti sekitar 500 warga Desa Pager Ukir dan warga di sekitar Pager Ukir yang berpartisipasi dalam acara ritual sedekah bumi itu.

Ratusan warga sejak pagi, sudah berkumpul memenuhi Kantor Balai Desa dan jalan menuju Situs Pager Ukir, ingin menyaksikan acara sakral yang sudah lama tidak digelar itu.

Meski lokasi situs Batu Tulis Pager Ukir yang berada di antara Kaki Gunung Suci dan Sendang Panguripan berjarak 1 kilometer, warga rela berjalan kaki mengular.

Salah satu siswa SDN Pager Ukir, Andri yang sejak pagi berseragam merah putih dengan membawa miniatur bendera merah putih mengaku bangga dengan diadakannya acara ritual agung Bedah Bumi.

“Saya senang karena lama tidak ada ritual seperti ini. Baru kali ini saya melihat langsung ritual Bedah Bumi,” terangnya kepada Surya, Senin (17/6/2013).

Juru Kunci Situs Pager Ukir, Bibit Susanto yang sejak awal tampak sibuk mempersiapkan beberapa piranti ritual, sesaji dan bunga setaman dan ratusan tumpeng yang diletakan di dalam wadah yang terbuat dari kulit batang pisang berbentuk kotak persegi.

“Ritual agung Bedah Bumi ini sudah lama tidak dilaksanakan. Mulai hari ini akan terus dilakukan sekaligus sebagai ritual ruwat desa agar warga kami serta semua warga Sampung diberi kelancaran dan keberhasilan dalam segala usahanya. Ini doa bersama dalam bentuk kenduri bersama. Kami tidak menyembah batu, tetapi tetap menyembah Tuhan yang nomor wakid,” katanya.

Selain itu, Bibit mengungkapkan, dengan acara ritual agung Bedah Bumi ini, diyakini akan berdampak baik di Desa Pager Ukir, sekaligus sebagai pengenalan kepada anak cucu warga Pager Ukir masih memiliki sejarah yang tidak dimiliki daerah lainnya.

“Mari kita nguri-nguri budaya ini karena dulu jaman kerajaan melakukan hal yang sama di situs ini. Sekarang tinggal melanjutkan,” paparnya.

Kepala Desa Pager Ukir, Sarnu mengaku bangga masyarakatnya sudah sadar akan kebesaran Budaya Jawa. Tanpa diperintah pemerintah desa, masyarakat sudah memiliki niat dan inisiatif tasyakuran sekaligus nguri-uri budaya di kampungnya itu.

“Kegiatan ini sangat baik karena ada partisipasi rakyat dan pemerintah desa dalam mengaggendakan kegiatan ini menjadi agenda tahunan di desa Pager Ukir,” ucapnya.

Pemerhati Budaya Jawa di Ponorogo, Yudit Santoso merasa bangga dengan kekompakan dan partisipasi warga Pager Ukir dan Sampung yang sudah mulai sadar akan Budaya Jawa yang ada di wilayahnya itu untuk dihidupkan kembali.

“Saya bangga dengan ritual agung Bedah Bumi karena akan memberikan pelajaran baru bagi warga. Acara ini juga diikuti warga lintas agama yang ada di wilayah Sampung dan Ponorogo. Kami yakin acara ini akan tetap abadi dan situs akan tetap terawat,” ungkapnya.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah raga (Disbudparpora) Pemkab Ponorogo, Sapto Jadmiko menegaskan, mendukung sepenuhnya partisipasi masyarakat Pager Ukir yang mulai membuka kembali budaya jawa khas warga asal Ponorogo itu.

“Bagi kami ini wujud nguri-uri budaya yang pernah hilang. Bangkitnya dan semangat partisipasi warga dalam menjaga dan melesatrikan budaya otomatis akan berdampak mengangkat pariwisata lokal di mata warga lain. Kami sangat mendukung acara itu sebagai potensi yang sangat berkualitas untuk dikembangkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s